Trankonmasinews – Susu adalah simbol gizi, kesehatan, dan kepercayaan. Ia diminum anak-anak, orang tua, dan mereka yang berharap tubuhnya tetap kuat.
Karena itu, setiap tetes susu yang di minum anak dan orang tua, seharusnya lahir dari proses yang jujur dan bertanggung jawab.
Namun di lapangan, realitas industri pangan tidak selalu sesederhana itu. Dalam rantai distribusi pangan, sering kali kualitas dipersempit maknanya menjadi sekadar angka di kertas: pH, bau, warna, dan hasil uji laboratorium.
Padahal, keamanan pangan tidak berhenti pada hasil akhir, melainkan dimulai dari proses. Proses inilah yang kerap luput dari perhatian publik.
Perlakuan tertentu terhadap bahan pangan—yang bertujuan “memperbaiki” kualitas—secara teknis mungkin membuat produk tampak layak.
Baca juga:
Pilkades: Pesta rakyat yang sesungguhnya
Namun pertanyaannya yang paling sederhana adalah: “apakah itu masih jujur? Apakah itu masih aman dalam jangka panjang?”
Penyesuaian pH, manipulasi kesegaran, atau praktik-praktik non-standar lainnya mungkin tidak langsung terlihat dampaknya.
Tetapi kesehatan publik bukan eksperimen jangka pendek. Risiko sering kali baru terasa setelah bertahun-tahun, dan yang menanggung akibatnya bukan produsen, melainkan konsumen.
Yang lebih mengkhawatirkan, praktik semacam ini sering berlangsung di ruang-ruang yang jauh dari pengawasan publik.
Masyarakat sekitar bisa melihat, bisa mengetahui, tetapi memilih diam. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena takut salah, takut dituduh, dan takut berhadapan dengan sistem yang terasa lebih kuat dari mereka.
Dalam kondisi seperti itu, edukasi publik menjadi kunci. Bukan untuk menghakimi, bukan untuk menuding, melainkan untuk mengingatkan bahwa pangan bukan sekadar komoditas. Ia adalah amanah sosial.
Negara memang memiliki regulasi, lembaga pengawas, dan standar. Namun tanpa kesadaran kolektif dari seluruh pelaku rantai pangan—produsen, distributor, koperasi, hingga konsumen—aturan mudah berubah menjadi formalitas.
Konsumen berhak tahu bahwa produk yang mereka konsumsi bukan hanya lolos uji, tetapi juga diproses dengan integritas. Dan para pelaku usaha, sekecil atau sebesar apa pun skalanya, memikul tanggung jawab moral yang sama: menjaga kesehatan orang banyak.
Soal kesehatan pangan tentu Renungan kita bersama, Ada pangan yang tampak baik, diuji baik, dan diterima pasar. Tapi proses di baliknya tidak selalu diketahui konsumen.
Ketika bahan pangan dimanipulasi, yang diminum bukan hanya susu, tapi juga risiko. Semoga setiap orang yang terlibat dalam rantai pangan, ingat bahwa kesehatan publik adalah amanah.
Kualitas pangan bukan soal angka di kertas. pH bisa disesuaikan, bau bisa ditutupi, tampilan bisa diperbaiki. Tapi dampak jangka panjangnya tetap ditanggung konsumen.
Integritas dalam pangan adalah soal kemanusiaan dan nurani, bukan sekadar lolos uji. Semoga semua pihak memilih jalan yang aman dan jujur.
Susu segar adalah bahan pangan sensitif. Perlakuan apa pun di luar standar—termasuk penyesuaian pH atau “pengobatan” kualitas—berpotensi mengubah sifat alami susu.
Yang lolos uji laboratorium belum tentu aman jika prosesnya tidak sesuai kaidah kesehatan. Konsumen berhak mendapatkan susu yang jujur, alami, dan aman.
Keamanan pangan bukan urusan angka semata. Ia adalah soal kejujuran, nurani, dan keberpihakan pada masa depan kesehatan masyarakat.[Kontributor: Jiyono]
Disclaimer:
Artikel ini bersifat opini dan edukasi publik. Penulis tidak bermaksud menuduh atau mengaitkan isi tulisan dengan pihak, lokasi, atau kejadian tertentu. Segala kesamaan dengan kondisi nyata merupakan kebetulan dan tidak dapat dijadikan dasar tuduhan hukum.
















