Terpecahnya Barisan Korban Koperasi BLN: Saat Keputusasaan Menggerus Kekuatan Perjuangan

Must Read

Terpecahnya Barisan Korban Koperasi BLN: Saat Keputusasaan Menggerus Kekuatan Perjuangan

Keputusasaan yang Melahirkan Kecurigaan

Trankonmasinews – Keputusasaan adalah ruang sunyi yang paling berbahaya. Ia tidak hanya melumpuhkan harapan, tetapi juga perlahan menggerus kepercayaan. Inilah yang kini dirasakan oleh para barisan korban Koperasi BLN (Bahana Lintas Nusantara).

Kegelisahan yang berkepanjangan, ketidakpastian nasib dana yang tertahan, serta ketiadaan kepastian penyelesaian yang jelas, telah menempatkan para barisan korban dalam kondisi psikologis yang rapuh.

Ironisnya, di tengah penderitaan yang sama, justru tumbuh kecurigaan di antara sesama korban. Rasa tidak percaya mulai merambat.

Konsentrasi perjuangan yang seharusnya terarah untuk menuntut pengembalian hak bersama, kini terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil dengan cara pandang dan strategi penyelesaian yang berbeda-beda.

Perbedaan Strategi yang Berujung Perpecahan

Ada yang memilih jalur hukum, ada yang percaya pada skema penyelesaian tertentu, ada pula yang berharap pada pendekatan negosiasi. Perbedaan ini pada dasarnya wajar.

Baca juga: 

Makan Bergizi Gratis dan Arsitektur Kekuasaan yang Sunyi

Namun, ketika perbedaan berubah menjadi perpecahan, maka kekuatan kolektif yang semula besar menjadi lemah.

Dalam falsafah Jawa terdapat ungkapan bijak: “kesusu selak muluk mergo nyawang bang sling melok.” Sebuah peringatan agar tidak tergesa-gesa dan tidak mudah terpengaruh oleh langkah orang lain tanpa pertimbangan matang.

Perpecahan ini tidak luput dari sorotan publik. Kondisi tidak kompaknya para korban justru menjadi celah yang menguntungkan pihak-pihak yang berkepentingan mempertahankan keadaan.

Sebab dalam realitas perjuangan, pihak yang menghadapi kelompok terpecah tidak perlu bekerja keras. Mereka cukup menunggu, karena kekuatan itu akan melemah dengan sendirinya.

Lemahnya Persatuan, Jauhnya Harapan Penyelesaian

Ketika korban saling curiga, saling menyalahkan, dan berjalan sendiri-sendiri, maka energi perjuangan habis untuk konflik internal, bukan untuk menuntut keadilan.

Padahal, yang menjadi persoalan utama bukanlah perbedaan cara, tetapi kesamaan tujuan: yaitu pengembalian hak para anggota.

Momentum ini seharusnya menjadi titik refleksi. Bahwa musuh utama bukanlah sesama korban, melainkan ketidakpastian dan ketidakadilan itu sendiri.

Persatuan adalah Kunci Terakhir Harapan

Sejarah telah membuktikan, kekuatan rakyat selalu lahir dari persatuan. Sebaliknya, kelemahan terbesar selalu berasal dari perpecahan internal.

Jika para korban mampu kembali menyatukan barisan, membangun komunikasi yang jernih, serta menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok, maka harapan itu masih ada.

Karena pada akhirnya, perjuangan bukan hanya soal siapa yang paling benar, tetapi siapa yang tetap bertahan bersama sampai keadilan benar-benar terwujud.[Kontributor:Jiyono]

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest News

Korban BLN Turun Jalan, Penanganan Dinilai Lambat, Polisi Didesak Bertindak

SEMARANG – Ratusan massa yang mengaku sebagai korban Koperasi Bahana Lintas Nusantara (BLN) menggelar aksi unjuk rasa di depan...

HotNews

Korban BLN Turun Jalan, Penanganan Dinilai Lambat, Polisi Didesak Bertindak

SEMARANG – Ratusan massa yang mengaku sebagai korban Koperasi Bahana Lintas Nusantara (BLN) menggelar aksi unjuk rasa di depan gerbang Mapolda Jawa Tengah, Jalan...

Dua Kapal Jaminan Diklaim Terjual, Bank BPD Jateng Cabang Pati Siapkan Langkah Hukum

PATI – Kasus dugaan penjualan barang jaminan berupa dua unit kapal yang diagunkan di Bank BPD Jateng Cabang Pati menjadi sorotan publik setelah viral...
Idul fitri

Idul Fitri 1447 H: Hari Kemenangan atau Sekadar Seremonial?

Trankonmasinews - Idul Fitri 1 Syawal 1447 H kembali hadir sebagai momen sakral bagi umat Islam setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa di bulan...

Ratusan Juta Rupiah Melayang: Utomo dan Karyono Ungkap Penipuan Investasi Fiktif Kapal Sumber Barokah

PATI - Polemik kasus huru hara yang lagi beredar ramai di media sosial telah di perbincangkan dalam klarifikasi awak media kepada utomo dan karyono...
Wartawan

Hindari Label “Wartawan Abal-Abal” – Sertifikasi Melalui LSP Pers adalah Solusinya

Trankonmasinews - Di tengah derasnya arus informasi digital yang semakin sulit dibendung, profesi wartawan kini menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan. Kemudahan akses teknologi dan...
Putusan

Putusan MK No. 123/PUU-XXIII/2025: Penguatan Pasal 14 UU Tipikor dalam Penegakan Hukum Lingkungan Hidup

Sambutan Lembaga Lingkungan Hidup Trangreendo Trankonmasinews - Lembaga Lingkungan Hidup Trangreendo (Trans Global Green Indonesia) menyambut baik Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 123/PUU-XXIII/2025 yang dibacakan oleh...

Kasus Mesin Kapal Manissejahtera Berbalik Arah: Dari Pelapor Jadi Terlapor

PATI – Perkara dugaan pencurian mesin kapal Manissejahtera yang sempat mencuat pada 2021 kembali memanas. Kasus yang sebelumnya berhenti karena minim bukti, kini justru...
Ramadhan

Safari Ramadhan Lindu Aji Puma 26: Berbagi Sembako dan Takjil untuk Panti Asuhan di...

Semarang, Trankonmasinews– Dalam semangat berbagi di bulan suci Ramadhan, komunitas Lindu Aji Puma 26 menggelar kegiatan Safari Ramadhan pada Minggu, 15 Maret 2026 mulai...

More Articles Like This