Trankonmasinews – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menjadi simbol komitmen negara untuk memperkuat kualitas generasi masa depan.
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, program ini membawa harapan besar, terutama bagi keluarga kecil yang selama ini harus berjuang memenuhi kebutuhan dasar anak-anak mereka.
Namun, ketika muncul wacana yang mengaitkan partisipasi dana zakat umat dan masyarakat umum untuk mendukung program MBG, banyak pihak yang ikut berpendapat. —
Sebagaimana yang disinggung oleh pimpinan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia maka muncul pula suara dari lapisan masyarakat paling bawah rakyat akar rumput yang patut didengar suaranya dan dipertimbangkan secara adil.
Suara itu sederhana, jujur, dan lahir dari nurani rakyat kecil: “Jika rakyat diminta ikut berpartisipasi, mengapa tidak dimulai dari para pejabat negara?”
Partisipasi yang Berkeadilan
Tidak ada yang menolak semangat gotong royong. Bangsa ini dibangun di atas nilai kebersamaan dan solidaritas. Namun, gotong royong sejati selalu dimulai dari keteladanan.
Baca juga:
Polemik Lokasi Koperasi Merah Putih di Sempadan Sungai, Sorotan Publik Menguat
Dalam hal ini, usulan sederhana dari rakyat kecil layak menjadi bahan renungan bersama: “Bagaimana jika seluruh pejabat negara, mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, hingga pusat, termasuk anggota legislatif dan semua yang menerima gaji dari negara, menyumbangkan Rp1.000,- setiap hari untuk program MBG?”
Nilai tersebut sangat kecil bagi seorang pejabat. Bahkan mungkin tidak setara dengan biaya secangkir kopi. Namun, maknanya jauh lebih besar daripada sekadar angka. Ia adalah simbol keikhlasan, keteladanan, dan tanggung jawab moral.
Jika satu pejabat menyumbang program MBG Rp1.000 per hari, maka dalam sebulan ia menyumbang Rp30.000. Jika dilakukan oleh jutaan aparatur negara dan pejabat publik di seluruh Indonesia, maka jumlahnya akan menjadi sangat signifikan.
Yang lebih penting, langkah ini akan menunjukkan bahwa pengorbanan tidak hanya diminta dari rakyat, tetapi juga dimulai dari mereka yang dipercaya mengelola negara.
Zakat dan Amanah Sosial
Zakat adalah kewajiban suci umat Islam yang memiliki tujuan jelas, yaitu membantu golongan yang berhak menerimanya. Pengelolaan zakat tidak hanya soal jumlah, tetapi juga soal amanah dan kepercayaan.
Sebagai rakyat bukan tidak setuju dengan usulan dari ketua DPD RI, Karena, setiap wacana yang berkaitan dengan pemanfaatan dana zakat harus dilakukan dengan kehati-hatian. transparansi, dan tetap berpegang pada prinsip keadilan sosial. Kepercayaan umat adalah fondasi utama yang tidak boleh terganggu.
Usulan rakyat kecil dalam konteks ini, partisipasi pejabat negara melalui kontribusi pribadi Rp1000,- justru dapat memperkuat semangat kebersamaan tanpa menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat.
Keteladanan sebagai Fondasi Kepercayaan
Sejarah menunjukkan bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi juga oleh keteladanan para pemimpinnya.
Rakyat tidak menuntut pengorbanan yang besar dari para pejabat. Rakyat hanya ingin melihat bahwa mereka yang berada di atas juga bersedia berbagi, meskipun dalam jumlah yang sederhana.
Seribu rupiah apalah artinya, mungkin kecil nilainya, tetapi besar maknanya. Ia adalah cermin keikhlasan. Ia adalah simbol empati. Ia adalah bukti bahwa pejabat negara bukan hanya pengelola anggaran, tetapi juga bagian dari rakyat itu sendiri.
Ketika keteladanan hadir, kepercayaan akan tumbuh. Dan ketika kepercayaan tumbuh, maka partisipasi masyarakat akan datang dengan sendirinya, tanpa perlu diminta.
MBG dan Masa Depan Kebersamaan Bangsa
Program MBG adalah langkah besar yang membawa harapan besar. Namun, keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada kekuatan anggaran, tetapi juga pada kekuatan moral dan kebersamaan bangsa.
Jika rakyat kecil diminta ikut berpartisipasi, maka sangat wajar jika rakyat juga berharap melihat keteladanan dari para pejabatnya.
Bukan karena rakyat akar rumput menolak membantu, tetapi karena rakyat percaya bahwa keadilan dimulai dari keteladanan para pemimpin.
Pada akhirnya, MBG bukan hanya tentang memberi makan anak-anak. Ia juga tentang memberi makan kepercayaan.
Dan kepercayaan hanya bisa tumbuh jika pengorbanan dirasakan bersama-sama, bukan hanya oleh rakyat kecil yang lemah, tetapi juga oleh rakyat yang kuat.
Karena dalam semangat gotong royong yang sejati, tidak ada yang terlalu kecil untuk memberi, dan tidak ada yang terlalu besar untuk memberi contoh keteladanan.













