Trankonmasinews – Dalam kehidupan, manusia sering kali hanya memahami peringatan Tuhan dalam satu wajah: kesusahan. Bukan dari wajah nikmat, Ketika hidup terasa berat, usaha gagal, tubuh sakit, atau hati dilanda kegelisahan, barulah kita merasa sedang “ditegur”. Namun jarang disadari, bahwa Tuhan juga memberi peringatan melalui jalan yang tampak indah: kesenangan.
Di sinilah letak kekeliruan cara pandang banyak orang.
Nikmat yang Melalaikan
Tidak sedikit manusia yang justru semakin jauh dari nilai kebaikan ketika hidupnya dipenuhi kemudahan. Rezeki lancar, usaha berkembang, jabatan naik, dan hidup terasa ringan. Semua itu dianggap sebagai bukti keberhasilan semata, seolah hasil jerih payah pribadi.
Padahal, dalam keadaan seperti itu, ada ujian yang jauh lebih berat: apakah manusia masih ingat kepada Tuhan saat semuanya terasa cukup?
Baca juga:
Hindari Label “Wartawan Abal-Abal” – Sertifikasi Melalui LSP Pers adalah Solusinya
Kesenangan sering kali menjadi jebakan yang halus. Ia tidak melukai, tetapi bisa melalaikan. Tidak menyakitkan, tetapi perlahan menjauhkan. Dalam kondisi ini, manusia bisa kehilangan kepekaan, merasa paling benar, bahkan lupa bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan.
Inilah bentuk teguran yang tidak terasa seperti teguran.
Derita yang Menyadarkan
Berbeda dengan kesenangan, kesusahan datang dengan wajah yang tegas. Ia mengguncang, memaksa berhenti, dan membuat manusia merenung. Dalam kesempitan hidup, manusia cenderung kembali menengadah, mencari makna, dan mengingat siapa dirinya sebenarnya.
Kesusahan bukan sekadar penderitaan. Ia bisa menjadi: jalan untuk membersihkan kesalahan, cara untuk menundukkan kesombongan, sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Sering kali, justru dalam kondisi terpuruk, manusia menemukan kembali arah hidupnya. Tangisan yang jatuh dalam kesulitan, kadang lebih jujur daripada tawa dalam kelapangan.
Dua Jalan, Satu Tujuan
Baik kesenangan maupun kesusahan, keduanya bukanlah kebetulan. Keduanya adalah cara Tuhan berbicara kepada manusia, dengan bahasa yang berbeda.
Kesenangan bertanya: “Apakah kamu masih bersyukur?”
Kesusahan bertanya: “Apakah kamu masih bersabar?”
Keduanya menguji hal yang sama: kesadaran manusia tentang dirinya dan Tuhannya.
Namun ironisnya, manusia sering gagal di keduanya. Saat senang, lupa. Saat susah, mengeluh. Padahal, keduanya adalah kesempatan untuk kembali lurus.
Belajar Membaca Isyarat
Hidup bukan hanya tentang apa yang kita alami, tetapi bagaimana kita memaknai setiap kejadian.
Orang yang bijak tidak mudah terbuai oleh kesenangan, dan tidak mudah runtuh oleh kesusahan. Ia memahami bahwa:
nikmat bukan jaminan kedekatan
derita bukan tanda kebencian
Semua adalah isyarat. Semua adalah panggilan untuk kembali sadar.
Tuhan tidak selalu menegur dengan cara yang keras. Kadang Ia membiarkan manusia menikmati hidupnya, agar terlihat jelas apakah ia tetap ingat atau justru tenggelam dalam kelalaian.
Dan ketika manusia mulai terlalu jauh, barulah teguran datang dalam bentuk yang lebih nyata. Kita sering takut pada derita, tapi jarang waspada pada nikmat. Padahal, bisa jadi yang membuat kita jatuh bukanlah kesusahan, melainkan kesenangan yang membuat kita lupa arah.
Sudah saatnya kita belajar membaca kedua tanda itu dengan hati yang jernih. Karena dalam setiap nikmat dan derita, selalu ada pesan yang sama:
“Kembalilah, sebelum terlambat.”













