Trankonmasinews.com – Di tengah negeri yang semakin riuh oleh perdebatan politik, kita sering menyaksikan sesuatu yang membutakan Akal dan Hati, sebagian memuja tokoh politik seolah tidak pernah salah, sementara sebagian lainnya membenci seolah tokoh tersebut tidak pernah memiliki kebaikan.

Ruang publik berubah menjadi arena saling serang. Perbedaan pilihan politik tidak lagi berhenti pada perbedaan gagasan, tetapi sering berkembang menjadi permusuhan antarsesama anak bangsa. Yang satu membela mati-matian, yang lain mencaci tanpa batas. Akhirnya, akal sehat sering kalah oleh fanatisme.
Dalam situasi seperti ini, Penulis terinspirasi dengan kiriman gambar seseorang yang sedang merenungkan kecintaannya kepada Nabi Muhammad SAW, dalam gambar tersebut tertulis nama Al Ghozali Wulakada yang ternyata seorang Dosen di Universitas Slamet Riyadi Surakarta.
Gambar tersebut tidak hanya menjadi sebuah gambar religi. Gambar tersebut dapat menjadi pengingat bagi kita semua: kepada siapa sebenarnya kita boleh menaruh cinta dan ketundukan secara sempurna?
Manusia, termasuk tokoh politik, tetaplah manusia benar, bisa keliru. Mereka bisa memiliki jasa, tetapi juga memiliki kekurangan. Mereka bisa membuat kebijakan yang bermanfaat, tetapi juga dapat mengambil keputusan yang menimbulkan persoalan.
Karena itu, jangan sampai kecintaan kepada seorang tokoh membuat kita kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis. Jangan pula kebencian kepada seorang tokoh membuat kita buta terhadap kebaikan yang pernah dilakukannya.
Inilah pentingnya belajar dari akhlak Rasulullah Muhammad SAW.
Rasulullah mengajarkan umatnya untuk berlaku adil, bahkan ketika berhadapan dengan orang yang tidak disukai. Kebenaran tidak boleh berubah hanya karena siapa yang menyampaikannya. Kesalahan tidak otomatis menjadi benar hanya karena dilakukan oleh orang yang kita kagumi.
Dalam politik, prinsip ini menjadi sangat penting.
Kita boleh memilih pemimpin. Kita boleh mendukung kebijakan. Kita boleh mengkritik pemerintah. Kita boleh berbeda pandangan dengan kelompok politik tertentu. Bahkan kritik yang tajam pun dapat menjadi bagian dari kehidupan demokrasi. Tetapi jangan sampai politik membuat kita kehilangan akhlak.
Jangan karena seseorang adalah tokoh yang kita dukung, lalu semua ucapannya dianggap benar. Jangan karena seseorang berada di kubu yang kita benci, lalu semua perbuatannya dianggap salah.
Tokoh politik bukan nabi.
Tidak ada manusia politik yang maksum dari kesalahan. Karena itu, menjadikan seorang tokoh sebagai objek pemujaan berlebihan justru berbahaya bagi kehidupan berbangsa.
Sebaliknya, membenci seseorang secara membabi buta juga dapat membuat kita berlaku tidak adil.
Negeri ini membutuhkan masyarakat yang dewasa secara politik.
Masyarakat yang mampu mengatakan benar ketika memang benar, dan berani mengatakan salah ketika memang salah—meskipun kesalahan itu dilakukan oleh tokoh yang selama ini mereka dukung.
Kita membutuhkan keberanian untuk berkata: “Saya mendukungnya, tetapi bukan berarti saya membenarkan semua tindakannya.”
Dan disisi lain: “Saya tidak memilihnya, tetapi bukan berarti semua yang dilakukannya pasti buruk.”
Kalimat sederhana semacam itu mungkin terdengar biasa. Namun, jika menjadi budaya dalam kehidupan politik, ia dapat menyelamatkan bangsa dari fanatisme yang memecah belah.
Kecintaan kepada Rasulullah SAW seharusnya mendidik hati menjadi lebih lembut sekaligus pikiran menjadi lebih jernih. Shalawat tidak semestinya hanya memperindah ucapan, tetapi juga memperbaiki perilaku.
Sebab mencintai Nabi berarti belajar mencintai keadilan, kejujuran, amanah, kasih sayang dan persaudaraan.
Ketika negeri sedang carut-marut oleh pertarungan kepentingan, mungkin yang kita perlukan bukan semakin banyak manusia yang berteriak paling keras, melainkan semakin banyak manusia yang mampu menahan diri, memeriksa informasi, berpikir jernih, dan tidak mudah menghakimi.
Politik boleh keras dalam gagasan, tetapi hati jangan dipenuhi kebencian.
Kritik boleh tajam, tetapi jangan berubah menjadi fitnah.
Perbedaan boleh tegas, tetapi persaudaraan jangan diputus.
Dan dukungan kepada seorang pemimpin boleh diberikan dengan penuh keyakinan, tetapi jangan sampai keyakinan itu membuat kita menyerahkan akal sehat dan hati nurani.
Di situlah kita dapat belajar dari Rasulullah SAW: cinta tidak boleh menghilangkan keadilan, dan perbedaan tidak boleh menghapus kemanusiaan.
Barangkali inilah pesan paling penting dari sebuah gambar sederhana dari AlGhizali Wulakada tentang kerinduan kepada Nabi. Dalam gambar tersebut Ketika manusia sibuk mencari tokoh untuk dipuja dan tokoh untuk dibenci, kita justru diajak kembali melihat keteladanan manusia terbaik yang pernah hadir dalam sejarah.
Bukan untuk menjadikan politik tanpa kritik. Bukan pula untuk menghapus perbedaan. Tetapi untuk mengingatkan bahwa di atas kepentingan kelompok, partai, kekuasaan, dan ketokohan politik, masih ada nilai yang jauh lebih tinggi: kebenaran, keadilan, persaudaraan, dan akhlak.
Semoga kecintaan kita kepada Rasulullah SAW tidak berhenti pada nama dan shalawat, tetapi menjadi jalan untuk memperbaiki cara kita melihat sesama. Sebab negeri ini tidak akan menjadi lebih baik hanya karena kita menemukan tokoh yang kita puja.
Negeri ini akan menjadi lebih baik ketika kita mampu menilai setiap tokoh dengan akal sehat, mengkritik tanpa kebencian, mendukung tanpa membutakan diri, dan berbeda tanpa kehilangan persaudaraan.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad.
Semoga cinta kepada Rasulullah menjadi cahaya bagi hati, kejernihan bagi pikiran, dan akhlak bagi kehidupan berbangsa.
