Dari Rumah Reot ke Kursi Empuk: Ketika Senyum Politik Berubah Menjadi Lupa Rakyat

Dari Rumah Reot ke Kursi Empuk, Jangan Lupakan Tangan yang Pernah Disalami

Trankonmasinews.com – Ada pemandangan yang selalu berulang setiap kali pesta demokrasi mendekat. Rumah-rumah sederhana didatangi. Jalan becek diterjang. Gang sempit dimasuki. Rumah reot yang mungkin selama bertahun-tahun tidak pernah tersentuh pejabat tiba-tiba menjadi tempat yang begitu penting.

Di sana, di rumah reot senyum ditebar. Tangan rakyat kecil disalami. Tubuh renta mereka dirangkul. Bahkan cipika-cipiki dilakukan seolah-olah tidak ada jarak antara calon pemimpin dengan rakyat yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya. Semua terlihat begitu dekat, begitu akrab, begitu merakyat.

Ketika Suara Dicari, Rakyat Terasa Begitu Berharga

Pada masa mencari suara, rakyat kecil seakan menjadi pusat perhatian. Orang yang hidup di rumah berdinding papan, beratap bocor, atau berlantai tanah didatangi. Mereka yang setiap hari bergelut dengan harga kebutuhan pokok, biaya sekolah anak, pekerjaan yang tidak pasti, hingga sulitnya mencari penghasilan, tiba-tiba menjadi orang penting.

BACA JUGA  Baliho Said Abdullah Diturunkan, Tokoh Pantura Kecam Pemkab Sampang

Janji pun mengalir. Senyum menghiasi wajah. Jabat tangan menjadi simbol kedekatan. Pelukan menjadi tanda persaudaraan. Tidak jarang, kamera ikut mengabadikan semuanya. Seolah-olah kedekatan dengan rakyat adalah bukti bahwa seseorang benar-benar memahami penderitaan mereka.

Namun rakyat sebenarnya tidak bodoh. Rakyat mungkin sederhana, tetapi mereka mampu mengingat. Mereka mengingat siapa yang pernah datang di rumah reot  ketika membutuhkan suara. Mereka mengingat siapa yang pernah duduk di teras rumahnya. Mereka mengingat siapa yang pernah menyalami tangannya. Mereka mengingat. Dan yang paling penting, rakyat juga akan mengingat siapa yang kemudian melupakan mereka.

Setelah Duduk di Kursi Empuk, Mengapa Rakyat Dilupakan?

Masalah muncul ketika pesta demokrasi selesai. Suara sudah terkumpul. Kursi empuk sudah diduduki. Jabatan sudah berada di tangan. Mobil dinas sudah tersedia. Ruang ber-AC menjadi tempat bekerja. Pintu kantor mulai dijaga. Orang-orang yang dahulu dengan mudah menemui rakyat kecil kini sering kali sulit ditemui.

Rumah reot yang dahulu didatangi seakan tidak lagi menarik perhatian. Jalan becek yang dulu diterjang demi mendapatkan suara tiba-tiba terasa terlalu jauh untuk dilalui.

Senyum yang dahulu begitu murah diberikan kepada rakyat kecil pun perlahan menghilang. Salaman tidak lagi sesering dulu. Dekapan dan cipika-cipiki menjadi cerita masa kampanye. Padahal kursi kekuasaan itu bukan milik pribadi. Kursi tersebut adalah amanah dari rakyat.

Kemerdekaan Bukan Sekadar Upacara, tetapi Keberanian Mengingat Amanah

Di tengah nuansa bulan kemerdekaan, pertanyaan ini layak kita renungkan. Sudah 81 tahun Indonesia merdeka, tetapi apakah rakyat kecil benar-benar merasakan kemerdekaan dalam kehidupan sehari-hari?

Kemerdekaan seharusnya bukan hanya upacara, bendera merah putih, pidato, atau slogan tentang perjuangan. Kemerdekaan juga berarti rakyat memperoleh kehidupan yang layak, hukum yang adil, pelayanan publik yang baik, dan pemimpin yang tidak menjadikan kekuasaan sebagai jalan memperkaya diri sendiri.

BACA JUGA  Mahasiswa Malang Asal Sampang Deklarasikan Pemenangan Mandat

Karena itu, ketika rakyat kemudian mendengar kabar seorang pejabat yang dahulu datang mengetuk pintu rumah mereka ternyata terseret perkara korupsi, wajar jika muncul rasa kecewa. Rakyat mungkin hanya bisa mengelus dada. “Eee… badala kojor-kojor.”

Ungkapan sederhana itu menggambarkan kekecewaan yang dalam: ternyata orang yang dahulu begitu dekat ketika membutuhkan suara, setelah berkuasa justru tersandung oleh godaan kekuasaan.

Rakyat Tidak Meminta Cipika-Cipiki, Mereka Meminta Bukti

Sesungguhnya rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang paling pandai tersenyum. Rakyat juga tidak membutuhkan pejabat yang paling sering mengumbar kedekatan di depan kamera.

Yang dibutuhkan rakyat adalah pemimpin yang bekerja. Jalan diperbaiki. Sekolah diperhatikan. Pelayanan kesehatan dibenahi. Lapangan pekerjaan diperluas. Harga kebutuhan pokok dijaga.

Petani, buruh, pedagang kecil, nelayan, dan pekerja informal diberikan ruang untuk tumbuh. Dan yang paling penting, uang rakyat harus dijaga.

Sebab korupsi bukan sekadar mengambil uang negara. Korupsi berarti mengambil kesempatan hidup dari rakyat.

Ketika uang untuk pembangunan dikorupsi, yang kehilangan bukan hanya negara. Yang kehilangan adalah anak yang seharusnya mendapat fasilitas pendidikan, keluarga yang membutuhkan layanan kesehatan, masyarakat desa yang menunggu jalan diperbaiki, dan rakyat kecil yang berharap kehidupan mereka sedikit lebih baik.

Salam Waras untuk Para Pemegang Amanah

Politik seharusnya tidak berhenti pada bagaimana mendapatkan suara. Politik adalah tentang bagaimana menjaga kepercayaan setelah suara diberikan.

BACA JUGA  Perkaya Sudut Pandang Dunia, SPRI Sambut Sputnik Indonesia

Jangan sampai rumah reot hanya didatangi ketika membutuhkan suara. Jangan sampai tangan rakyat hanya dicari ketika membutuhkan dukungan. Jangan sampai senyum hanya menjadi alat kampanye. Sebab rakyat memiliki ingatan.

Mereka mungkin tidak memiliki kursi empuk, tetapi mereka memiliki hak untuk menilai. Mereka mungkin tidak memiliki kekuasaan, tetapi mereka memiliki suara. Dan suara itu suatu hari akan kembali menentukan siapa yang layak dipercaya.

Di bulan kemerdekaan ini, mari kita ingat kembali makna merdeka: merdeka dari keserakahan, merdeka dari penyalahgunaan kekuasaan, merdeka dari politik pencitraan, dan merdeka dari korupsi. Kepada siapa pun yang sedang duduk di kursi kekuasaan, jangan pernah lupa dari mana kursi itu berasal.

Di balik kursi empuk ada suara rakyat. Di balik suara rakyat ada harapan. Dan di balik harapan itu ada amanah yang tidak boleh dikhianati. Salam waras. Salam Merdeka…!!!

Dulu, ada seseorang yang memiliki keinginan untuk menjadi anggota DPRD ia datang dan berkomunikasi dengan saya. Ia sampaikan Ada harapan besar yang ia ingin diwujudkan. Ada jalan politik yang ingin ia tempuh, tetapi jalan itu tentu tidak mudah.

Kemudian saya mencoba membantu sebatas kemampuan yang saya miliki. Saya mengenalkannya kepada seorang Sekjen salah satu partai politik.

Pertemuan itu bukan sesuatu yang tiba-tiba. Di awali Ada komunikasi, ada kepercayaan, ada proses memperkenalkan, dan ada harapan bahwa perkenalan tersebut bisa menjadi salah satu pintu menuju perjalanan politiknya.

Waktu terus berjalan.Komunikasi semakin intens. Hubungan politik mulai terbentuk. Akhirnya, perjalanan itu membuahkan hasil. Ia berhasil menjadi anggota DPRD.

BACA JUGA  Satresnarkoba Polres Boyolali Ungkap Peredaran Obat Terlarang, Ratusan Butir Disita

Tentu Saya ikut merasa senang. Bagaimanapun, ketika seseorang yang pernah datang meminta bantuan kemudian berhasil mencapai apa yang diinginkannya, tentu ada rasa bangga tersendiri. Rasanya seperti melihat seseorang yang dahulu berjalan di jalan kecil, kemudian berhasil sampai ke jalan yang lebih besar.

Tetapi politik ternyata memiliki cerita lain. Setelah kursi DPRD didapatkan, perlahan-lahan hubungan itu berubah. Orang yang dahulu datang, yang dahulu membutuhkan bantuan, yang dahulu mencari jalan dan kemudian saya bantu mempertemukannya dengan seorang Sekjen partai, tiba-tiba seperti memiliki ingatan baru.

Saya yang dahulu dikenal, perlahan menjadi tidak dikenal. Yang dahulu mudah berkomunikasi, kemudian terasa berjarak. Yang dahulu datang dengan senyum dan keramahan, kemudian seolah tidak pernah mengenal.

Di sinilah saya belajar bahwa ternyata politik bukan hanya soal bagaimana seseorang mendapatkan suara, tetapi juga bagaimana seseorang menjaga ingatan terhadap orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanannya.

Ketika Butuh, Kita Dicari. Ketika Sudah Duduk di kursi DPR Kita Dilupakan, Saya tidak sedang meminta penghargaan. Saya juga tidak sedang menagih balas jasa. Sebab membantu seseorang seharusnya tidak selalu dihitung seperti transaksi. Tetapi ada satu hal yang seharusnya tidak mahal dalam kehidupan: Yaitu menghargai orang yang pernah membantu.

Tidak perlu memberi jabatan, Tidak perlu memberi uang, Tidak perlu membalas dengan sesuatu yang besar. Cukup tetap mengenal, Cukup tetap menyapa, Cukup ketika bertemu berkata, “Apa kabar?” Cukup Sesederhana itu.

Menjadi anggota DPRD adalah sebuah kehormatan sekaligus amanah. Kursi itu bukan hadiah pribadi. Ada suara rakyat di sana. Ada harapan masyarakat di sana.

Karena itu, semakin tinggi seseorang duduk, seharusnya semakin panjang pula ingatannya ke bawah. Jangan sampai kursi membuat seseorang lupa kepada jalan yang pernah dilalui. Jangan sampai jabatan membuat seseorang lupa kepada orang-orang yang pernah ditemui.

Rakyat Punya Mata, rakyat Punya Telinga, dan rakyat Punya Ingatan, Kisah kecil seperti ini sebenarnya adalah gambaran yang lebih besar tentang politik di negeri kita.

Ketika suara dibutuhkan, rakyat didekati. Ketika kekuasaan sudah diperoleh, rakyat sering kali hanya menjadi angka dalam laporan.

Rakyat adalah pemilik kedaulatan. Begitu pula dengan orang-orang yang tinggal di rumah reot dan orang orang yang pernah membantu perjalanan politik. Mereka mungkin tidak meminta apa-apa. Tetapi jangan hapus mereka dari ingatan hanya karena sekarang sudah duduk di kursi kekuasaan.

Karena pada akhirnya, jabatan akan selesai, periode akan berakhir, kursi akan berganti penghuni, tetapi sikap dan perilaku seseorang akan selalu meninggalkan jejak.

Dan kalau suatu hari rakyat bertanya, “Siapa yang dahulu datang kepada kami ketika membutuhkan suara?”

Jangan sampai jawabannya adalah orang yang sekarang justru tidak mau lagi mengenal mereka. Salam Waras, Salam Merdeka.

Di bulan kemerdekaan ini, mari kita belajar dari makna perjuangan. Merdeka bukan berarti bebas melupakan. Merdeka bukan berarti bebas menggunakan kekuasaan sesuka hati.

Merdeka bukan berarti setelah mendapatkan kursi kemudian merasa lebih tinggi dari mereka yang dahulu disalami. Justru kemerdekaan mengajarkan kita tentang tanggung jawab, penghormatan, dan amanah.

Kepada siapa pun yang saat ini sedang duduk di kursi empuk kekuasaan, ingatlah satu hal: Jangan pernah malu mengakui  rumah reot yang pernah di datangi dan orang yang pernah membantu perjalananmu.

Sebab orang yang pernah membantu membuka pintu, tidak menjadi kecil hanya karena kamu sudah berada di dalam ruangan.

Kursi boleh empuk, Jabatan boleh tinggi, Kekuasaan boleh besar, Tetapi jangan sampai hati menjadi keras dan ingatan menjadi pendek.tetsplah ingat awal perjalanan mendatangi rumah reot.

Karena pada akhirnya, yang membuat seseorang besar bukan kursi empuk yang didudukinya, melainkan bagaimana ia tetap menghargai rumah reot dan orang lain setelah berhasil mendapatkannya.
Salam waras. Salam Merdeka

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini