Oleh: Sriyanto Ahmad, C. Par, C. PLA, C. Md, C. Ass, Ketua Umum LPK Transparan konsumen Reformasi ( Tranko masi)
Trankonmadinews.com – Ada sebuah pertanyaan sederhana tetapi penting dalam melihat pembangunan pendidikan: apa arti gedung sekolah yang semakin baik apabila ruang kelas justru semakin sepi?
Gedung Diperbaiki, Tetapi Mengapa Orang Tua Memilih Sekolah Lain?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Namun di tengah besarnya perhatian pemerintah terhadap pembangunan gedung dan revitalisasi satuan pendidikan, persoalan tersebut layak menjadi bahan renungan bersama.
Revitalisasi gedung sekolah tentu merupakan sesuatu yang patut diapresiasi. Ruang kelas yang rusak perlu diperbaiki. Fasilitas belajar perlu ditingkatkan. Perpustakaan, ruang pendukung, sanitasi dan berbagai sarana pendidikan memang harus memenuhi standar yang layak agar anak-anak dapat belajar dengan nyaman dan aman.
Tetapi pendidikan tidak berhenti pada bangunan gedung. Sekolah bukan sekadar tembok, atap, lantai dan ruang kelas. Sekolah adalah ekosistem yang terdiri dari peserta didik, guru, kepala sekolah, orang tua, lingkungan masyarakat, kualitas pembelajaran, prestasi, budaya sekolah, keamanan, aksesibilitas dan kepercayaan masyarakat.

Karena itu, ketika ada sekolah yang setelah mendapatkan revitalisasi gedung justru menghadapi persoalan minimnya murid baru, pertanyaan yang muncul seharusnya bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan.
Pertanyaannya adalah:
Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Murid Baru Minim, Alarm bagi Dunia Pendidikan
Jumlah murid baru yang sedikit tidak otomatis menunjukkan bahwa sekolah tersebut gagal.
Ada banyak kemungkinan yang harus diperiksa.
Bisa saja jumlah anak usia sekolah di wilayah sekitar memang menurun. Perubahan demografi, perpindahan penduduk, perubahan pola permukiman dan menurunnya angka kelahiran dapat memengaruhi jumlah peserta didik. Namun kemungkinan lain juga harus dibuka.
Bagaimana jika anak-anak usia sekolah sebenarnya cukup banyak, tetapi orang tua justru memilih sekolah lain?
Kalau itu yang terjadi, maka persoalannya bukan lagi sekadar jumlah anak. Ada persoalan mengenai kepercayaan masyarakat terhadap sekolah.
Maka perlu ditanyakan secara objektif: Apakah kualitas pembelajaran sudah sesuai harapan orang tua?
Bagaimana prestasi akademik dan non akademiknya?
Bagaimana budaya dan kedisiplinan sekolah?
Apakah komunikasi antara sekolah dan orang tua berjalan baik?
Apakah guru mendapatkan dukungan dan pengembangan kompetensi yang memadai?
Apakah sekolah mempunyai keunggulan yang membuat masyarakat tertarik?
Apakah akses menuju sekolah mudah?
Dan apakah pemerintah telah melakukan pemetaan jumlah anak usia sekolah sebelum menentukan kebijakan pembangunan?
Dari Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan tuduhan. Justru itulah bentuk evaluasi yang sehat. Sebab orang tua pada akhirnya tidak hanya melihat apakah sekolah mempunyai gedung baru. Tetapi Orang tua sedang memilih masa depan anaknya. Gedung Bagus Tidak Otomatis Menghadirkan Murid, Pembangunan fisik merupakan bagian penting dari pendidikan, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.
Sebuah sekolah dapat memiliki gedung ruang kelas yang bagus, perpustakaan yang baik dan fasilitas yang memadai. Tetapi apabila kualitas layanan pendidikan tidak berkembang, masyarakat belum tentu memberikan kepercayaan.
Karena itu, revitalisasi fisik semestinya diikuti dengan revitalisasi manajemen dan kualitas pendidikan. Pemerintah perlu melihat sekolah secara menyeluruh. Bukan hanya berapa ruang kelas yang diperbaiki, tetapi juga bagaimana kondisi peserta didiknya.
Bukan hanya berapa anggaran yang diserap, tetapi juga apa dampaknya terhadap kualitas pendidikan. Bukan hanya apakah proyek selesai, tetapi apakah tujuan pembangunan benar-benar tercapai.Inilah yang sering menjadi tantangan dalam kebijakan publik.
Keberhasilan proyek belum tentu sama dengan keberhasilan program. Bangunan selesai merupakan capaian fisik. Namun meningkatnya kualitas pendidikan, bertambahnya kepercayaan masyarakat dan terciptanya lingkungan belajar yang berkualitas merupakan capaian yang jauh lebih substantif.
Anggaran Pendidikan Harus Dibaca dari Manfaatnya
Setiap pembangunan yang menggunakan uang publik tentu layak diapresiasi apabila memang dibutuhkan dan memberikan manfaat. Namun masyarakat juga memiliki hak untuk bertanya.
Apakah perencanaan pembangunan sudah mempertimbangkan perkembangan jumlah anak usia sekolah? Apakah distribusi sekolah sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat?
Apakah proyeksi jumlah peserta didik sudah menjadi pertimbangan? Apakah sekolah-sekolah dengan jumlah murid yang terus menurun sudah mendapatkan perhatian khusus? Dan setelah revitalisasi selesai, apakah ada strategi agar sekolah tersebut tetap hidup, berkembang dan memberikan layanan pendidikan yang berkualitas?
Pertanyaan seperti ini penting agar kebijakan pendidikan tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik. Sebab uang publik harus menghasilkan manfaat publik.
Setiap rupiah yang dikeluarkan untuk pendidikan pada akhirnya harus kembali menjadi manfaat bagi anak-anak dan masyarakat.
Jangan Terburu-buru Menutup, Jangan Pula Membiarkan, Minimnya peserta didik juga tidak otomatis berarti sekolah harus ditutup.
Penutupan sekolah dapat menimbulkan persoalan baru, terutama apabila sekolah tersebut berada di wilayah yang membutuhkan akses pendidikan.
Yang diperlukan adalah pemetaan dan evaluasi secara menyeluruh. Jika jumlah anak memang terus menurun, pemerintah dapat mempertimbangkan penataan ulang satuan pendidikan. Jika persoalannya kualitas, maka kualitas harus diperbaiki.
Jika persoalannya akses, akses perlu dibenahi.
Jika persoalannya kepercayaan masyarakat, sekolah harus berani melakukan introspeksi dan membangun kembali hubungan dengan orang tua.
Jika persoalannya manajemen, maka manajemen harus diperkuat.
Dengan demikian, kebijakan tidak lahir berdasarkan asumsi, melainkan berdasarkan data.
Saatnya Merehabilitasi Cara Pandang terhadap Pendidikan Revitalisasi sekolah adalah sesuatu yang baik. Tetapi revitalisasi seharusnya tidak berhenti pada bangunan. Yang perlu direvitalisasi juga adalah cara kita melihat pendidikan. Sekolah harus dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar proyek pembangunan.
Pemerintah perlu membangun gedung sekolah berdasarkan kebutuhan, bukan hanya berdasarkan ketersediaan anggaran.
Sekolah perlu meningkatkan kualitas, bukan hanya mempercantik fasilitas.
Masyarakat perlu ikut mengawasi, bukan hanya menjadi penonton. Dan orang tua perlu dilibatkan sebagai bagian dari ekosistem pendidikan, bukan hanya sebagai pihak yang mengantarkan anak ke sekolah.
Sebab ketika sebuah sekolah memiliki bangunan yang semakin baik tetapi murid barunya semakin sedikit, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa sekolah tersebut gagal.
Tetapi jangan pula mengabaikannya. Jadikan kondisi itu sebagai alarm.
Alarm bagi sekolah untuk berbenah. Alarm bagi pemerintah untuk mengevaluasi kebijakan. Alarm bagi masyarakat untuk ikut mengawasi. Dan alarm bagi kita semua bahwa masa depan pendidikan tidak cukup dibangun dengan beton dan anggaran.
Masa depan pendidikan dibangun dengan perencanaan yang tepat, kualitas yang nyata, kepercayaan masyarakat dan keberpihakan kepada anak-anak.
