MUKA…..Antara Cari Muka, Kehilangan Muka, dan Bermuka Dua

Oleh: — Muhamad Sarman

BOYOLALI, Trankonmasinews.com – Ada satu kata sederhana dalam bahasa kita yang ternyata memiliki banyak wajah: “muka.”

Muka bukan sekadar bagian dari tubuh yang kita lihat setiap kali bercermin. Dalam kehidupan sosial, muka bisa berarti harga diri, kehormatan, citra, bahkan cara seseorang mempertahankan kepercayaan orang lain.

Karena itu, kita mengenal istilah cari muka.

Cari muka sebenarnya tidak selalu buruk. Dalam pengertian sederhana, seseorang bisa saja berusaha menunjukkan kemampuan, bekerja dengan baik, atau ingin mendapatkan pengakuan atas hasil kerjanya. Persoalannya muncul ketika mencari muka dilakukan dengan mengorbankan orang lain, mengambil kredit atas pekerjaan orang lain, atau sengaja membangun citra yang tidak sejalan dengan kenyataan.

BACA JUGA  Banyumas Tuan Rumah Smart Green ASEAN Cities UNCDF

Di titik itulah kita perlu belajar membedakan antara membangun reputasi dan sekadar mencari popularitas.

Ada pula istilah “kehilangan muka.”

Ini bukan sekadar persoalan malu. Kehilangan muka dapat dimaknai sebagai hilangnya kepercayaan, wibawa, atau kredibilitas seseorang di tengah lingkungan sosialnya. Sekali kepercayaan hilang, mengembalikannya tidak cukup dengan kata-kata. Ia membutuhkan waktu, konsistensi, dan pembuktian melalui tindakan.

Maka tidak mengherankan jika dalam sebuah persoalan yang menyangkut kehormatan, sering muncul pertanyaan:

“Mukanya mau ditaruh di mana?”

Pertanyaan tersebut sebenarnya mengandung pelajaran penting. Bahwa dalam kehidupan bersama, manusia tidak hanya membutuhkan kecerdasan untuk mengambil keputusan, tetapi juga membutuhkan rasa malu, tanggung jawab, dan kesadaran terhadap konsekuensi dari setiap tindakan.

Namun ada satu jenis “muka” yang paling tidak disukai dalam kehidupan sosial: bermuka dua.

Di depan mengatakan A, di belakang mengatakan B. Kepada seseorang berbicara seolah-olah mendukung, tetapi kepada pihak lain justru mengambil posisi berbeda. Hari ini menjadi kawan, besok berubah menjadi lawan, bukan karena perbedaan prinsip, melainkan karena kepentingan.

BACA JUGA  Preservasi Jalan Bendo Maospati Senilai 25 Miliar Ditender Ulang, Kini Tahap Evaluasi Administrasi

Dalam kehidupan politik, fenomena semacam ini menjadi lebih mudah terlihat.

Politik pada dasarnya merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Perbedaan kepentingan, pilihan, gagasan, dan strategi adalah sesuatu yang wajar. Orang boleh berbeda pilihan. Kelompok boleh memiliki agenda berbeda. Bahkan persaingan politik pun merupakan bagian dari proses demokrasi selama berlangsung sesuai aturan.

Tetapi politik juga mengajarkan satu hal penting: jangan sampai kepentingan membuat kita kehilangan muka sebagai manusia.

Di tingkat desa sekalipun, politik bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan masyarakat. Pemilihan kepala desa, pemilihan anggota BPD, pembentukan kelompok masyarakat, sampai berbagai dinamika menjelang kontestasi dapat mempertemukan kepentingan yang berbeda.

Di sana istilah “muka” menjadi menarik.

Ada yang cari muka dengan rajin tampil di depan masyarakat. Ada yang berusaha mempertahankan muka karena tidak ingin kehilangan kepercayaan. Ada pula yang akhirnya harus menjawab pertanyaan, “kalau keputusan itu keliru, mukanya mau ditaruh di mana?”.

BACA JUGA  IFBEX 2026: Pameran Franchise dan Bisnis Terbesar Akan Digelar di Bandung, Integrasikan Peluang Usaha dengan Transformasi Digital

Dan tentu saja, masyarakat akan selalu berhadapan dengan persoalan bermuka dua: ketika ucapan berbeda dengan tindakan.

Karena itu, ukuran seseorang dalam kehidupan politik seharusnya tidak hanya dilihat dari seberapa sering wajahnya muncul di depan masyarakat. Yang jauh lebih penting adalah apakah antara wajah, ucapan, dan tindakannya memiliki kesesuaian.

Politik boleh berubah. Konstelasi boleh bergeser. Kawan politik bisa saja berbeda pilihan. Strategi bisa berubah mengikuti keadaan. Tetapi integritas seharusnya tidak ikut berubah setiap kali kepentingan berganti.

Pada akhirnya, kita semua mempunyai satu “muka” yang harus dipertanggungjawabkan.

Bukan hanya di depan kamera.
Bukan hanya di depan pendukung.
Bukan hanya di depan atasan atau kelompok sendiri.

Tetapi juga di depan masyarakat dan hati nurani sendiri.

Sebab wajah bisa dipoles dengan berbagai cara. Citra bisa dibangun. Popularitas bisa dikejar. Tetapi kepercayaan hanya lahir dari konsistensi antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan.

Maka akhir pekan ini, mungkin ada baiknya kita bercermin sebentar.

Bukan untuk bertanya apakah wajah kita terlihat baik.

Tetapi untuk bertanya:

“Selama ini, muka seperti apa yang sedang kita tunjukkan kepada orang lain?”

Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan sekadar punya muka, melainkan mampu menjaga muka—dengan kejujuran, tanggung jawab, dan sikap yang tidak bermuka dua.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini