Reaktualisasi Seni Budaya Kubro Siswo Dalam Kawasan Segitiga Emas Muntilan (lokal) dalam Tantangan Global

Reaktualisasi Seni Budaya Kubro Siswo Dalam Kawasan Segitiga Emas Muntilan (lokal) dalam Tantangan Global

Oleh Sriyanto A , C Par, C .PLA, C.LO ,  C.Md , C .Ass , C .Link

Assesor  dan  Pemerhati , Politik Sosial Budaya

Reaktualisasi Seni Budaya Kubro Siswo adalah proses menghidupkan dan memaknai kembali nilai-nilai seni  tradisional agar tetap relevan di tengah arus modernisasi (red: Tranformasi seni Budaya  sekitar Muntilanan  (Kawasan Merapi).

Kubro Siswo adalah kesenian tari tradisional asal Kabupaten Magelang dan wilayah Yogyakarta yang memadukan dakwah Islam dengan semangat perjuangan. Kata Kubro berarti besar atau agung, dan Siswo berarti murid, menyimbolkan pengabdian besar umat kepada Sang Pencipta serta gerakan olah tubuh dan ji

Seni Budaya Local adalah hasil cipta, rasa, dan karsa manusia yang tumbuh dan berkembang di suatu daerah tertentu. Bentuk seni mencakup nilai-nilai luhur dan ciri khas Masyarakat setempat. (red : Seni Budaya Glocal Muntilan).

Segitiga Emas (Golden Triangle) paling umum merujuk pada Kawasan perbatasan Muntilan dikenal sebagai pusat Sejarah, seni budaya religi tua di Magelang yang sering dihubungkan dengan titik silang kebudayaan penting di jalur Joglosemar (Jogja-Solo-Semarang) serta penyangga kawasan wisata Borobudur, Merapi dan Merbabu dengan pintu gerbang Tugu Ireng Tempel perbatasan Magelang – Jogyakarta.

Istilah khusus penulis dengan istilah “segitiga Emas Seni Budaya Muntilan“ atau Kawasan Merapi sebagai titik sentral dan secara resmi belum menjadi nomenklatur baku pariwisata, kami  (red:   penulis) ingin  mempopulerkan (Reaktualisi Kawasan Muntilan menjadi Icon local menuju Glocal ))

Tantangan seni budaya adalah berbagai hambatan, kesulitan, atau persoalan yang mengancam eksistensi, pelestarian, dan pengembangan nilai-nilai serta karya seni dan tradisi local khususnya Kubro Siswo seiring akibat pergeseran zaman dan dinamika sosial.(red : Tantangan Local Kawasan Muntilan).

Glocal adalah kata gabungan dari global dan local. Istilah ini berarti cara pandang atau tindakan yang mencakup standar dunia (global), tetapi tetap disesuaikan dengan ciri khas, budaya, atau kebutuhan daerah (lokal). Prinsip utamanya sering disebut “berpikir secara global, bertindak secara lokal”.  (Pen :Seni budaya Muntilan( lical )  menuju Glocal) .

Seni budaya segitiga Emas Muntilan warisan Local menuju glocal merujuk pada  makna “umum” atau berkaitan dengan garis besar suatu isu global memiliki makna  “menyeluruh” atau Glocal dari manisfestasi local (kearifan Lokal). Sebagai contoh bahasa  Inggris dikatakan glocal karena digunakan di seluruh dunia nantinya Kubro Siswo bisa jika sudah didaftarkan Hak Cipta atau Hak Kekayaan Intelektual (HAKKI) sedangkan hal yang berhubungan dengan tehnologi dan rekayasa reaktifasi budaya bisa dipatenkan dengan  melakukan hibridasi Seni Budaya . ( Pen : Hibridisasi budaya adalah proses perpaduan atau pencampuran unsur-unsur dari seni tari Kubro Siswo  dikolaborasikan   dan musil local dengan aresemen dan  tehnologi global )  .

Seni Budaya Kubro Siswo tidak lagi berbicara local Kawasan Muntilan dan Merapi akan tetapi sudah bisa diakses global (Internasional lewat Informasi dan komunakasi Glocal).

BACA JUGA  Puluhan Tahun Melewati Jalan Raya Sampang Geliat Ekonomi Masih Biasa-biasa saja

 Karena Glocal adalah cara pandang atau tindakan yang mencakup standar local menuju Global akan, tetapi tetap disesuaikan dengan ciri khas, budaya, atau kebutuhan daerah (lokal). Prinsip utamanya sering disebut bertindak secara local, berpikir  secara Global “.   Pen :  Seni Budaya Muntilan menuju Glocal).

Menghadapi tantangan dari local ke global, strategi ini menuntut adaptasi estetika, pemanfaatan teknologi, serta pelibatan aktif generasi muda agar identitas kultural tidak tergerus oleh homogenisasi global.

Dominasi budaya  global menggeser posisi seni tradisi di ruang publik harus melakukan  ede kreatif atau hibridasi yang bisa memadukan seni budaya local ke global atau sebaliknya global ke local (Glokascasisasi).

Krisis dan krisisnya identitas, Minimnya minat generasi muda sekitar Kawasan karena seni lokal dianggap Kuno yang sebenarnya memiliki falsafah tinggi, moral dan religius yang    kuat menghadapi tantangan dan hambatan dan menciptakan peluang pasar di dalam Kawasan maupun luar Kawasan .

Komersialisasi tanpa akar atau prinsip yang kuat untuk menguatkan potensi dan kreatifitas Eksploitasi seni sekadar untuk pariwisata tanpa memahami nilai filosofisnya maka Strategi Reaktualisasi dan Adaptasi  Hibriditas Kreatif  dibutuhkan  demi kelangsungan budaya local. Mempertemukan seniman lokal dengan jejaring internasional untuk memperkuat posisi tawar budaya.

Selama beberapa tahun terakhir kemajuan teknologi dan media sosial semakin meluas. Hal ini ikut mempengaruhi berbagai sektor, salah satunya seni tradisi seni budaya Kubro Siswo  ditengah berbagai jenis disrupsi, seni tradisi menghadapi interseksi permasalahan, yakni literasi teknologi dan entitas kultural yang terancam tergantikan oleh dunia virtual-digital yang  melupakan esensi Tulisan kami secara konseptual berbicara tentang upaya-upaya yang dilakukan oleh para seniman menuju seni tradisi yang glocal (Local wisdom) menuju global (mengglobal), dengan dekulturalisasi, dan strategi dalam melindungi seni tradisi sebagai karya intelektual.

Dampak globalisasi justru memunculkan fenomena baru, seperti hibriditas musik, dan meluasnya akses informasi terhadap seni tradisi. Revitalisasi seni tradisi adalah sebuah keniscayaan yang perlu disambut oleh para pelaku, mulai dari pemerintah, komunitas, penggiat media sosial, pelaku bisnis, dan akademisi. Pada akhirnya prinsip kolaborasi sangat berperan untuk mengambil peran seni tradisi berkontestasi secara global.

Muntilan dan wilayah sekitarnya di Kabupaten Magelang berada di jalur strategis antara Yogyakarta, Kota Magelang, dan Candi Borobudur. Kawasan ini menyimpan potensi besar sebagai pusat seni budaya yang dikolaborasikan seni pahat batu tradisional yang menggambarkan esistensi   kekayaan budaya, serta penerapan teknologi, seperti industri kreatif  batu yang divisualkan lewat motif patung contohnya Kubro Siswo .

Karena Potensi Seni Budaya Muntilan Seni Pahat Batu Warisan budaya leluhur dan Kesenian Rakyat: Tarian tradisional seperti Soreng dan Kubro Siswo.

BACA JUGA  Sedekah Tanpa Pamrih: Menebar Kebaikan di Tengah Semarak Musim Pemilihan Kepala Desa

Hal ini sejalan Visi besar Bupati Magelang dalam RPJMD mengusung slogan “Magelang Anyar Gress” (Aman, Nyaman, Religius, Unggul, dan Sejahtera). Di bidang seni dan budaya, komitmen ini dijabarkan melalui misi fasilitasi kebudayaan, pelestarian tradisi lokal, serta pembangunan sarana pendukung ekspresi seni masyarakat

Tantangan dan hambatan pelestarian seni budaya di wilayah Muntilan, Kabupaten Magelang, meliputi minimnya dokumentasi digital, kurangnya regenerasi seniman muda, keterbatasan sarana penunjang, serta Berita Magelang yang mencatat dampak tekanan modernisasi terhadap aktivitas. Tantangan Utama Seni Budaya kurangnya Regenerasi: Anak muda di Muntilan lebih tertarik pada budaya pop modern daripada kesenian tradisional seperti Jathilan, Topeng Ireng, atau Kubro Siswo. Minimnya Publikasi dan Pendataan: Banyak kelompok seni lokal belum tercatat secara resmi dan jarang memanfaatkan media digital untuk promosi. Keterbatasan Fasilitas: Sanggar seni sering menghadapi kendala dana, minimnya alat musik tradisional, serta ruang latihan yang memadai. Pergeseran Nilai: Kesenian tradisional kerap dipandang sebelah mata atau hanya dianggap sebagai hiburan sesaat tanpa makna ekonomi dan edukasi. Hambatan di Sektor Pendidikan Kekurangan Guru Spesialis: Pengajar bidang seni budaya di sekolah terkadang tidak memiliki latar belakang keahlian seni yang spesifik. Jam Pelajaran Terbatas: Alokasi waktu kurikulum sering kali kurang optimal untuk mendalami praktik seni secara mendalam.

Aktualisasi seni budaya di era globalisasi adalah proses menghidupkan dan memaknai kembali nilai-nilai seni tradisional agar tetap relevan, adaptif, dan bernilai tinggi di tengah arus modernisasi serta penetrasi budaya digital maka   seni Budaya Kubro Siswo Harus  bisa lakukan reaktifasi dan hinridasi  dengan memodernisasi   seni  dan tehnologi berbasis   kearifan musik lokal dengan mengakses   dan adaptasi dengan  music   luar daerah  atau global dengan  tampa meninggalkan    pakem     budaya lokal.

Tantangan Globalisasi bagi Seni Budaya

  • Arus Budaya Asing : Dominasi budaya populer global yang masuk dengan mudah melalui gawai dan internet.
  • Krisis Identitas: Generasi muda mulai meninggalkan tradisi lokal karena dianggap kuno atau tidak sesuai zaman.
  • Homogenisasi: Risiko penyeragaman budaya dunia yang dapat mengaburkan kekhasan dan kearifan lokal.

Strategi Reaktualisasi dan Adaptasi

  • Digitalisasi Seni: Memanfaatkan media sosial dan internet untuk mendokumentasikan serta mempromosikan kesenian lokal ke kancah internasional.
  • Kolaborasi Kreatif: Memadukan elemen seni tradisional dengan unsur modern atau kontemporer (hibridisasi) agar lebih menarik.
  • Pendidikan Berkelanjutan: Memasukkan pengenalan seni budaya lokal ke dalam ruang belajar formal maupun komunitas berbasis anak muda.
  • Dukungan Ekosistem: Melibatkan peran aktif pemerintah, seniman, dan pegiat industri kreatif untuk memperkuat posisi budaya lokal.
  • Penguatan Konten  Lokal  :  mengangkat  Isu kekinian  dalam  balutan  estetika  tradisi agar  agar  pesan social   sampai ke Masyarakat  luas .
  • Membuat Anjungan Budaya di setiap Desa .
BACA JUGA  Isu Ijazah Palsu: Ujian Serius Bagi APH dan Integritas Hukum Indonesia

Konsep dan Contoh Glocal

  • Dalam Bisnis: Perusahaan besar dunia menjual produk dengan standar internasional, tetapi rasa atau fiturnya diubah agar cocok dengan selera masyarakat setempat. Contohnya adalah ketoprak siswo budoyo  tulung agung  yang       berkolaborasi dengan  music  global  .
  • Dalam Budaya: Masuknya tren dari luar negeri yang dipadukan secara kreatif dengan seni atau tradisi asli suatu wilayah.
  • Dalam Lingkungan/Sosial: Masalah besar dunia seperti perubahan iklim diselesaikan melalui aksi nyata di tingkat rukun tetangga atau desa.

Memahami Keunikan Kesenian Tradisional  Local 

Kesenian tradisional merupakan cerminan identitas suatu bangsa yang diwariskan secara turun-temurun karena dengan seni budaya tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sarana untuk menyampaikan nilai-nilai sosial, moral, dan sejarah  dan sebagai pemersatuan dan jati diri daerah atau  bangsa.

Melestarikan Kesenian Tradisional untuk Masa Depan

Untuk menjaga keberlangsungan seni tradisional, berbagai upaya pelestarian terus dilakukan khususnya  di Kab Magelangs sesuai  Visi Anyar Gress (Aman, Nyaman, Religius, Unggul, dan Sejahtera) Kabupaten Magelang menempatkan pelestarian seni dan budaya sebagai bagian dari Misi Panca Dharma yang pertama, yaitu mewujudkan masyarakat yang berpendidikan, berbudaya, berkarakter, dan berdaya saing  maka seni dan budaya kubro siswo  berperan penting dalam melestarikan warisan seni Budaya Kab Magelang  sebagai   media   pemersatu dan  jati diri daerah menuju Glokal .

 

Upaya Pelestarian Kesenian Tradisional dan reaktualisasi Kubro Siswo

Bentuk Reaktualisasi Kubro Siswo

  • Inovasi Pertunjukan: Memadukan koreografi tradisional dengan unsur gerak yang lebih dinamis serta aransemen musik kreatif (seperti kolaborasi dengan alat musik modern atau genre lain) agar menarik minat generasi muda.
  • Pemanfaatan Media Digital: Mempromosikan pementasan Kubro Siswo melalui media sosial dan dokumentasi daring guna memperluas jangkauan penonton melampaui batas wilayah lokal.
  • Pemberdayaan Komunitas & Generasi Muda: Mengadakan pelatihan kesenian di sanggar-sanggar dan memasukkan latihan Kubro Siswo ke dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah atau pemuda desa.
  • Penguatan Nilai Dakwah dan Karakter: Menonjolkan pesan moral, nasionalisme, dan nilai spiritual Islam yang dikemas agar sesuai dengan konteks persoalan sosial saat ini.

Selain itu, kemajuan teknologi turut dimanfaatkan untuk mempromosikan seni tradisional melalui platform digital seperti YouTube dan media sosial, sehingga generasi muda lebih mudah mengakses dan mengenal budaya mereka.

Penutup

Sebagai kesimpulan, kesenian tradisional memiliki nilai penting dalam menjaga identitas budaya suatu bangsa. Dengan memahami dan melestarikan seni tradisional, kita turut berkontribusi dalam menjaga kekayaan  seni budaya  Nasional  yang   berorientasi Glocal .

Bahwa tulisan Kami ini sebagai Saran dan rekomendasi Pemda Kabupaten Magelang untuk   menyelesaikan persoalan Seni Budaya asli Magelang agar segera didaftarkan hak ciptanya.

 

 

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini